Pendidikan Kesehatan

A. KONSEP PERILAKU

Perilaku merupakan respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar), oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, kemudian organisme tersebut merespons (Skinner, 1938 dalam Soekidjo Notoadmodjo, 2003 : 118).

Perilaku kesehatan (health behavior) yaitu hal-hal yang berkaitan dengan tindakan atau kegiatan seseorang dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Termasuk juga tindakan-tindakan untuk mencegah penyakit, kebersihan perorangan, dan sebagainya (Becker, 1979).

Perilaku sakit (illness behavior) yakni segala tindakan atau tindakan yang dilakukan seorang individu yang merasa sakit untuk merasakan dan mengenal keadaan kesehatannya atau rasa sakit, Perilaku manusia adalah refleksi dari berbagai gejala kejiwaan seperti pengetahuan, persepsi, minat, keinginan dan sikap. Hal-hal yang mempengaruhi perilaku seseorang sebagian terletak dalam diri individu sendiri yang disebut juga faktor internal sebagian lagi terletak di luar dirinya atau disebut dengan faktor eksternal yaitu faktor lingkungan.

Skinner (1938) seorang ahli psikologis, merumuskan bahwa perilaku merupakan respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Dilihat dari bentuk respons terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua :

1. Perilaku tertutup (covert behavior)

Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup (covert), misalnya : seorang ibu hamil tahu pentingnya periksa kehamilan, seorang pemuda tahu bahwa HIV/AIDS dapat menular melalui hubungan seks, dan sebagainya.

2. Perilaku terbuka (overt behavior)

Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka, misalnya seorang ibu memeriksakan kehamilannya atau membawa anaknya ke puskesmas untuk diimunisasi.

Domain Perilaku

Faktor-faktor yang membedakan respon terhadap stimulus yang berbeda disebut determinan perilaku. Determinan perilaku ini dapat dibedakan menjadi dua yakni :

1. Determinan atau faktor internal, yakni karakterisitik orang yang bersangkutan yang bersifat

given atau bawaan misalnya tingkat kecerdasan, tingkat emosional, jenis kelamin.

2. Determinan atau faktor eksternal yaitu lingkungan baik lingkungan fisik, sosial, budaya ekonomi, politik.

Bentuk  Operasional Perilaku

Perilaku yang optimal akan memberi dampak pada status kesehatan yang optimal juga. Perilaku yang optimal adalah seluruh pola kekuatan, kebiasaan pribadi atau masyarakat, baik secara sadar ataupun tidak yang mengarah kepada upaya pribadi atau masyarakat untuk menolong dirinya sendiri dari masalah kesehatan. Pola kelakuan/kebiasaan yang berhubungan dengan tindakan promotif, preventif harus ada pada setiap pribadi atau masyarakat.

Perilaku dapat dibatasi sebagai jiwa (berpendapat, berfikir, bersikap dan sebagainya) (Notoatmodjo,1999). Untuk memberikan respon terhadap situasi di luar objek tersebut. Respon ini dapat bersifat pasif (tanpa tindakan). Bentuk operasional dari perilaku dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu :

1.     Perilaku dalam bentuk pengetahuan, yaitu dengan mengetahui situasi dan rangsangan.

2.     Perilaku dalam bentuk sikap, yaitu tanggapan perasaan terhadap keadaan atau rangsangan dari luar diri si subyek, sehingga alam itu sendiri akan mencetak perilaku manusia yang hidup di dalamnya, sesuai dengan sifat keadaan alam tersebut (lingkungan fisik) dan keadaan lingkungan sosial budaya yang bersifat non fisik, tetapi mempunyai pengaruh kuat terhadap pembentukan perilaku manusia. Lingkungan ini adalah merupakan keadaan masyarakat dan segala budi daya masyarakat itu lahir dan mengembangkan perilakunya.

3.     Perilaku dalam bentuk tindakan, yang sudah konkrit berupa perbuatan terhadap situasi dan suatu rangsangan dari luar.

Perilaku Dalam Bentuk Pengetahuan

Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan umumnya datang dari pengalaman, juga dapat diperoleh dari informasi yang disampaikan orang lain, didapat dari buku, atau media massa dan elektronik.

Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yaitu indera penglihatan, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Ever Behavior). Pada dasarnya pengetahuan terdiri dari sejumlah fakta dan teori yang memungkinkan seseorang dapat memahami sesuatu gejala dan memecahkan masalah yang dihadapi.

Pengetahuan dapat diperoleh dari pengalaman langsung ataupun melalui pengalaman orang lain. Pengetahaun dapat ditingkatkan melalui penyuluhan, baik secara individu maupun kelompok, untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan yang bertujuan untuk tercapainya perubahan perilaku individu, keluarga dan masyarakat dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan optimal.

Menurut Notoatmodjo (1993), pengetahuan mempunyai 6 (enam) tingkatan, yaitu :

a.      Tahu (Know)

Diartikan sebagai pengingat sesuatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bagian yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tabu tentang apa yang dipelajari antara lain : menyebutkan, mendefinisikan dan mengatakan.

b.      Pemahaman (Comprehension)

Diartikan sebagai kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang telah memahami terhadap objek atau materi atau harus dapat menjelaskan, menyebutkan cotoh, menyampaikan, meramalkan terhadap objek yang dipelajari.

c.      Aplikasi (Aplication)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi yang sebenarnya. Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan buku, rumus, metode, prinsip dlam konteks atau situasi lain. Misalnya adalah dapat menggunakan rumus statistik dalam perhitungan-perhitungan hasil penelitian dan dapat menggunakan prinsip-prinsip siklus pemecahan masalah kesehatan dari kasus-kasus yang diberikan.

d.     Analisis (Analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti : dapat menggambarkan, membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.

e.     Sintesis (Synthesis)

Sintesis merujuk kepada suatu kemampuan untuk menghubungkan bagian-bagian kedalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain, sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dan formulasi-formulasi yang ada. Misalnya : dapat menyususun, merencanakan, meringkaskan, menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.

f.      Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan-kemampuan untuk melakukan Justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian ini berdasarkan kriteria yang telah ditentkan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang ada.

Perilaku Dalam Bentuk Sikap

Sikap adalah merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulasi atau objek. Sikap tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari adalah merupakan reaksi yag bersifat emosional terhadap stimulus sosial (Notoatmodjo, 1993).

Secara umum sikap dapat dirumuskan sebagai kecendrungan untuk merespon (secara positif atau negatif) terhadap orang, objek atau situasi tertentu. Sikap mengandung suatu penelitian emosional/afektif (senang, benci, sedih dan sebagainya). Selain bersifat positif atau negatif, sikap memiliki tingkat kedalaman yang berbeda-beda (sangat benci, agak benci, dan sebaginya). Sikap ini tidaklah sama dengan perilaku, dan perilaku tidaklah selalu mencermikan sikap seseorang, sebab seringkali terjadi bahwa seseorang dapat berubah dengan memperlihatkan tindakan yang bertentangan dengan sikapnya. Sikap seseorang dapat berubah dengan diperolehnya tembahan informasi tentang objek tersebut melalui persuasi serta tekanan dari kelompok sosialnya.

Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap stimulas atau objek. Manifestasi sikap itu tidak dapat langsung dilihat, tetapi dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup.

Allport (1954) dalam Soekidjo (1993), menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai 3 (tiga) komponen pokok, yaitu :

a.     Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek.
b.     Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek.
c.     Kecendrungan untuk bertindak (tend to behave).

Sikap ini terdiri dari 4(empat) tingkatan yaitu :

1.      Menerima (Receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek). Misalnya : sikap orang terhadap lingkungandapat dilihat dari kesediaan dan perhatian orang itu terhadap ceramah-ceramah tentang lingkungan.

2.      Merespon (Responding)
Memberikan jawaban, apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan, terlepas dari pekerjaan itu benar atau salah adalah berarti bahwa orang menerima ide tersebut.

3.     Menghargai (Valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga. Misalnya : seorang ibu yang mengajak ibu yang lain untuk pergi menimbangkan anaknya ke posyandu atau mendiskusikan tentang gizi adalah suatu bukti bahwa si ibu tersebut telah mempunyai sikap positif terhadap gizi anak.

4.     Bertanggung jawab (Responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko merupakan sikap yang paling tinggi.

Ciri-ciri sikap adalah :

1.     Sikap bukan dibawa sejak lahir, melainkan dibentuk atau dipelajari sepanjang perkembangan orang itu dalam hubungan dengan objeknya. Sifat ini membedakannya dengan sifat motif-motif biogenetis, seperti : lapar, haus atau kebutuhan akan istirahat.

2.     Sikap dapat berubah-ubah, karena itu sikap dapat dipelajari dan karena itu pula sikap dapat berubah-ubah pada orang, bila terdapat keadaan-keadaan dari syarat-syarat tertentu yang mempermudah sikap pada orang itu.

3.     Sikap tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa mempunyai hubungan tertentu terhadap suatu objek, dengan kata lain sikap itu terbentuk, dipelajari atau berubah senantiasa.

4.     Objek sikap itu dapat merupakan satu hal tertentu tetapi dapat juga merupakan kumpulan dari hal-hal tersebut.

Sikap mempunyai segi motivasi dan segi-segi perasaan. Sifat inilah yang membedakan sikap dari kecakapan-kecakapan atau pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki orang (Purwanto, 1990). Fungsi sikap dibagi menjadi 4 (empat) golongan, yakni :

1.     Sebagai alat untuk menyesuaikan diri. Sikap adalah sesuatu yang bersifat communicable artinya sesuatu yang mudah menjalar, sehingga mudah pula menjadi milik bersama.

2.      Sebagai alat pengukur tingkah laku. Kita tahu bahwa tingkah laku anak kecil atau binatang pada umumnya merupakan aksi-aksi yang spontan terhadap sekitarnya. Antara perangsang dan reaksi tidak ada pertimbangan, tetapi pada orang dewasa dan yang sudah lanjut usianya, perangsang itu pada umumnya tidak diberi reaksi secara spontan akan tetapi terdapat adanya proses secara sadar untuk menilai perangsang-perangsang itu. Jadi, antara perangsang dan reaksi terhadap sesuatu yang disisipkannya yaitu sesuatu yang berwujud pertimbangan-pertimbangan atau penilaian-penilaian terhadap perangsang itu sebenarnya bukan hal yang berdiri sendiri tetapi merupakan sesuatu yang erat hubungannya dengan cita-cita orang, tujuan hidup orang, peraturan-peraturan kesusilaan yang ada dalam bendera, keinginan- keinginan pada orang itu dan sebagainya.

3.     Sebagai alat pengatur pengalaman-pengalaman. Dalam hal ini perlu dikemukakan bahwa manusia di dalam menerima pengalaman-pengalaman dari dunia luar sikapnya tidak pasif, tetapi diterima secara aktif artinya semua pengalaman yang berasal dari dunia luar tidak semuanya dilayani oleh manusia tetapi manusia memilih mana-mana yang perlu dan mana-mana yang tidak perlu dilayani. Jadi semua pengalaman ini diberi penilaian lalu dipilih.

4.     Sebagai penyataan kepribadian. Sikap sering mencerminkan pribadi seseorang. Ini sebabnya karena sikap tidak pernah terpisah dari pribadi yang mendukungnya. Oleh karena itu dengan melihat sikap-sikap pada objek tertentu, sedikit banyak orang bisa mengetahui pribadi orang tersebut. Jadi, sikap sebagai pernyataan pribadi. Apabila kita akan mengubah sikap seseorang, maka kita harus mengetahui keadaan sesungguhnya dari sikap orang tersebut dan dengan mengetahui keadaan sikap itu kita akan mengetahui pula mungkin tidaknya sikap tersebut diubah dan bagaimana cara mengubah sikap-sikap tersebut (Purwanto, 1999).

Perilaku Dalam Bentuk Tindakan

Suatu sikap belum tentu otomatis terwujud dalam suatu tindakan untuk terwujudnya sikap menjadi suatu perubahan nyata diperlukan faktor pendukung/suatu kondisi yang memungkinkan (Notoatmojo, 19993). Tindakan terdiri dari 4 (empat) tingkatan, yaitu :

1.     Persepsi (Perception)
Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil adalah merupakan praktek tingkat pertama.

2.       Respon Terpimpin (Guided Response)
Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan contoh adalah merupakan indikator praktek tingkat dua.

3.     Mekanisme (Mechanism)
Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan, maka ia sudah mencapai praktek tingkat tiga.

4.     Adopsi (Adoptioan)
Adaptasi adalah praktek atau tindakan yang sesudah berkembang dengan baik, artinya tindakan itu sudah di modifikasikan tanpa mengurangi kebenaran tingkat tersebut.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku

Menurut L.W.Green, faktor penyebab masalah kesehatan adalah faktor perilaku dan faktor non perilaku. Faktor perilaku khususnya perilaku kesehatan dipengaruhi oleh 3 (tiga) faktor, yaitu :

1.     Faktor-faktor Predisposisi (Predisposing Factors)
Adalah faktor yang terwujud dalam kepercayaan, kayakinan, niali-nilai dan juga variasi demografi, seperti : status ekonomi, umur, jenis kelamin dan susunan keluarga. Faktor ini lebih bersifat dari dalam diri individu tersebut.

2.     Faktor-faktor Pemungkin (Enambling Factors)
Adalah faktor pendukung yang terwujud dalam lingkungan fisik, termasuk di dalamnya adalah berbagai macam sarana dan prasarana, misal : dana, transportasi, fasilitas, kebijakan pemerintah dan lain sebagainya.

3.     Faktor-faktor Pendukung (Reinforcing Factors)
Adalah faktor-faktor ini meliputi : faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat, tokoh agama, sikap dan perilaku petugas termasuk petugas kesehatan, undang-undang peraturan-peraturan baik dari pusat maupun pemerintah daerah yang terkait dengan kesehatan.

Beberapa teori lain yang telah dicoba untuk mengungkapkan deteminan perilaku dari analisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku, khususnya perilaku yang berhubungan dengan kesehatan antar lain:

1) Teori Lawrence Green

Green mencoba menganalisis perilaku manusia dari tingkat kesehatan. Kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh 2 faktor pokok yaitu faktor perilaku (behavior causes) dan faktor di luar perilaku (non behavior causes). Selanjutnya perilaku itu sendiri ditentukan atau terbentuk dari 3 faktor :

a. Faktor-faktor predisposisi (predisposing factor), yang terwujud dalam pegetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya.

b. Faktor-faktor pendukung (enabling faktor), yang terwujud dalam lingkungan fisik tersedia atau tidaknya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana kesehatan misalnya puskesmas, obat-obatan, alat-alat kontrasepsi, jamban dan sebagainya.

c. Faktor-faktor pendorong (reforcing factor) yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas yang lain, yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat.

2)  Teori Snehandu B, Kar

Kar mencoba menganalisis perilaku kesehatan dengan bertitik tolak pada perilaku itu merupakan fungsi dari :

a. Niat seseorang untuk bertindak sehubungan dengan kesehatan atau perawatan kesehatanya (behavior intention)

b. Dukungan sosial dari masyarakat sekitarnya (social support)

c. Ada atau tidak adanya informasi tentang kesehatan atau fasilitas kesehatan (acesssebility of information)

d. Otonom pribadi yang bersangkutan dalam hal ii mengambil tindakan atau keputusan (personal autonomy)

e. Situasi yang emungkinkan untuk bertindak atau tidak bertindak (action situastion).

3)  Teori WHO

Tim kerja dari WHO menganalisis bahwa yang menyebabkan seseorang itu berperilaku tertentu adalah karena adanya 4 alasan pokok, pemikiran dan perasaan (thought and feeling) yakni dalam bentuk pengetahuan, persepsi, sikap, kepercayaan-kepercayaan dan penilaian-penilaian seseorang terhadap objek.

a.     Pengetahuan
Pengetahuan di peroleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain.

b. Kepercayaan
Kepercayaan sering atau diperoleh dari orang tua, kakek atau nenek. Seseorang menerima kepercayaan itu berdasarkan keyakinan dan tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu.

b.       Sikap
Sikap menggambarkan suka atau tidak suka terhadap objek sikap sering diperoleh dari pengalaman sendiri atau orang lain yang paling dekat.

c.        Orang penting sebagai referensi
Perilaku orang, lebih-lebih perilaku anak kecil lebih banyak dipengaruhi oleh orang-orang yang dianggap penting.

d.       Sumber daya (resources)Sumber daya disini mencakup fasilitas-fasilitas, uang, waktu, tenaga dan sebagainya. Semua itu berpengaruh terhadap perilku seseorang atau kelompok masyarakat.

e.     Perilaku normal, kebiasaan, nilai-nilai, dan penggunaan sumber
f.      Di dalam suatu masyarakat akan menghasilkan suatu pola hidup (way of life) yang pada umumnya disebut kebudayaan.

B. TEORI PERUBAHAN PERILAKU KESEHATAN MASYARAKAT

1) Teori Stimulus-Organisme-Respon (S-O-R)
Teori ini mendasarkan asumsi bahwa penyebab terjadinya perubahan perilaku tergantung pada kualitas rangsang (stimulus) yang berkomunikasi dengan organisme. Artinya kualitas dari sumber komunikasi (sources) misalnya, kredibilitas, kepemimpinan, gaya berbicara sangat menentukan keberhasilan perubahan perilaku seseorang, kelompok atau masyarakat. Hosland, et al (1953) mengatakan bahwa proses perubahan perilaku sama dengan proses belajar, pada individu yang terdiri dari :

a. Stimulus (rangsang) yang diberikan pada organisme dapat diterima atau ditolak. Apabila stimulus tersebut tidak diterima atau ditolak berarti stimulus itu tidak efektif mempengaruhi perhatian individu dan berhenti di sini. Akan tetapi bila stimulus diterima oleh organism berarti ada perhatian dari individu dan stimulus tersebut efektif.

b. Apabila stimulus telah mendapat perhatian dari organisme (diterima) maka ia mengerti stimulus ini dan dilanjutkan kepada proses berikutnya.

c. Setelah itu organism mengolah stimulus tersebut sehingga terjadi kesediaan untuk bertindak demi stimulus yang telah diterimanya (bersikap)

d. Akhirnya dengan dukungan fasilitas serta dorongan dari lingkungan maka stimulus tersebut mempunyai efek tindakan dari individu tersebut (perubahan perilaku).

Proses perubahan perilaku berdasarkan teori S-O-R ini dapat digambarkan sebagai berikut :

Teori S-O-R

2) Teori Festinger (Dissonance Theory)

Teori Finger (1957) telah banyak pengaruhnya dalam psikologi social. Teori ini sebenarnya sama dengan konsep imbalance. Hal ini berarti bahwa keadaan cognitive dissonance merupakan keadaan ketidakseimbangan psikologis yang diliputi oleh ketegangan diri yang berusaha untuk mencapai keseimbangan kembali. Apabila terjadi keseimbangan dalam diri individu, maka berarti sudah tidak terrjadi ketegangan diri lagi, maka keadaan ini disebut consonance (keseimbangan).

Dissonance terjadi karena dalam diri individu terdapat dua elemen kognisi yang saling bertentangan. Yang dimaksud elemen kognisi adalah pengetahuan, pendapat atau keyakinan. Apabila individu menghadapi suatu stimulus atau objek, dan stimulus tersebut menimbulkan pendapat atau keyakinan yang ebrbeda/bertentangan dalam diri individu sendiri, maka terjadilah ketidakseimbangan. 

Rumus ini menjelaskan bahwa ketidakseimbangan dalam diri seseorang yang akan menyebabkan perubahan perilaku terjadi disebabkan karena adanya perbedaan jumlah elemen kogniti yang tidak seimbang dengan jumlah elemen kognitif yang tidak seimbang serta sama-sama pentingnya. Hal ini akan menimbulkan konflik pada diri individu tersebut. Seorang ibu rumah tangga yang bekerja dikantor. Disatu pihak dengan bekerja ia dapat tambahan pendapatn bagi keluarganya, yang akhirnya dapat memenuhi kebutuhan bagi keluarga dan anak-anaknya, termasuk kebutuhan makanan yang bergizi. Apabila ia tidak bekerja, jelas ia tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok keluarga. Di pihak lain, apabila ia tidak bekerja, jelas ia tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok keluarga . dipihak lain, apabila ia bekerja, ia khawatir terhadap perawtan anak-anaknya akan menimbulkan masalah.  Kedua elemen ini sama-sama pentingnya, yakni rasa tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga yang baik.

3) Teori Fungsi

Teori ini berdasakan anggapan bahwa perubahan perilaku individu itu tergantung kepada keutuhan. Hal ini berarti bahwa stimulus yang dapat mengakibatkan perubahan perilaku seseorang apanila stimulus tersebut dapat dimengerti dalam konteks kebutuhan orang tersebut. Menurut Katz (1960) perilaku dilatarbelakangi oleh kebutuhan individu yang bersangkutan. Katz berasumsi bahwa :

a. Perilaku memiliki fungsi instrumental, artinya dapat berfungsi dan memberikan pelayanan terhadap keutuhan. Seseorang dapat bertindak (berperilaku) positf terhadap objek demi pemenuha kebutuhannya. Sebaliknya bila objek tidak dapat memenuhi kebutuhannya maka ia akan berperilaku negatif. misalnya ada orangyang mau membuat jamban apabila jamban tesebut benar-benar sudah menjadi kebutuhannya.

b. Perilaku dapat berfungsi sebagai “defence mecanism” atau sebagai pertahanan diri dalam menghadapi lingkungannya. Artinya, dengan perilaku dan tindakan-tindakannya manusia dapat melindungi ancaman-ancaman yang datang dari luar. Misalnya , orang dapat menghindari penyakit demam berdarah, karena penyakit tersebut merupakan ancaman baginya

c. Perilaku berfungsi sebagai penerima objek dan memberikan arti. Dalam perananya itu sesorang senantiasa menyesuaikan diri dengan lingkungannya melalui tindakannya. Dengan tindakan sehari-harinya tersebut seseorang telah melakukan keputusan-keputusan sehubungan dengan objek atau stimulus yang dihadapi. Pengambilan keputusan yang mengakibatkan tindakan-tindakan tersebut dilakukan secara spontan dan dalam waktu yang singkat. Misalnya seseorang merasa sakit kepala maka untuk mengatasinya org trsebut minum obatwarung dan meminumnya, atau dengan tindakan2 lain

d. Perilaku berfungsi sebagai nilai ekspresif dalam diri seseorang dalam menjawab suatu situasi. Nilai ekspresif ini berasal dari konsep diri seseorang dan merupakan pencerminan dari hati sanubari. Oleh sebab itu perilaku dapat merupakan ‘layar’ dimana segala ungkapan diri orang dapat dilihat. Misalnya orang yang sedang marah, gusar, senang dll, dapat dilihat dari perilaku dan tindakannya

Teori ini meyakinkan bahwa perilaku ini mempunyai fungsi untuk menghadapi dunia luar individu, dan senantiasa menyesuaikan diri dengan lingkungannya menurut kebutuhannya. Oleh sebab itu, di dalam kehidupan manusia, perilaku itu tampak terus-menerus dan berubah secara relatif.

4) Teori Kurt Lewin

Kurt Lewin (1970) berpendapat bahwa manusia itu adalah suatu keadaan yang seimbang antara kekuatan-kekuatan pendorong (driving forces) dan kekuatan-kekuatan penahan (restrining forces). Perilaku itu dapat berubah apabila terjadi ketidakseimbangan antara kedua kekuatan tersebut di dalam diri seseorang.

Sehingga ada tiga kemungkinan terjadinya perubahan perilaku pada diri seseorang itu, yakni :

a.       Kekuatan-kekuatan pendorong meningkat. Hal ini terjadi adanya stimulus-stimulus yang mendorong untuk terjadinya perubahan-perubahan perilaku. Stimulus ini berupa penyuluhan-penyuluhan atau informasi-informasu sehubungan dengan perilaku yang bersangkutan. Misalnya, seseorang yang belum ikut KB (ada keseimbangan antara pentingnya anak sedikit, dengan kepercayaan banyak anak banyak rezeki) dapat berubah perilakunya (ikut KB) kalau kekuatan pendorong yakni pentingnya ber-KB dinaiknnya dengan penyuluhan-penyuluhan atau usaha-usaha lain.

b.       Kekuatan-kekuatan penahan menurun. Hal ini akan terjadi adanya stimulus-stimulus yang memperlemah kekuatan penahan tersebut. Misalnya, contoh di atas, dengan pemberian pengertian kepada orang tersebut bahwa banyak anak banyak rezeki, adalah kepercayaan yang salah, maka kekuatan penahan tersebut melemah, dan akan terjadi perubahan perilaku orang tersebut.

c. Kekuatan pendorong meningkat, kekuatan pendorong menurun. Dengan keadaa semacam ini jelas juga akan terjadi perubahan perilaku. Seperti pada contoh di atas, penyuluhan KB yang berisikan memberikan pengertian terhadap orang tersebut tentang pentingnya ber-KB dan tidak benarnya kepercayaan banyak anak banyak rezeki akan meningkatkan kekuatan pendorong, dan sekaligus menurunkan kekuatan penahan.

Menurut WHO, yang dikutip oleh Notoatmodjo (1993), perubahan perilaku dikelompokkan menjadi 3 (tiga), yaitu :

1. Perubahan alamiah (natural change), ialah perubahan yang dikarenakan perubahan pada lingkungan fisik, sosial, budaya ataupun ekonomi dimana dia hidup dan beraktifitas.

2. Perubahan terencana (planned change), ialah perubahan ini terjadi, karena memang direncanakan sendiri oleh subjek.

3. Perubahan dari hal kesediaannya untuk berubah (readiness to change), ialah perubahan yang terjadi apabila terdapat suatu inovasi atau program-program baru, maka yang terjadi adalah sebagian orang cepat mengalami perubahan perilaku dan sebagian lagi lamban. Hal ini disebabkan setiap orang mempunyai kesediaan untuk berubah yang berbeda-beda.

Tim ahli WHO (1984), menganalisis bahwa yang menyebabkan seseorang itu berperilaku ada empat alasan pokok, yaitu :

1.     Pemikiran dan perasaan

Bentuk pemikiran dan perasaan ini adalah pengetahuan, kepercayaan, sikap dan lain-lain.

2.     Orang penting sebagai referensi

Apabila seseorang itu penting bagi kita, maka apapun yang ia katakan dan lakukan cendrung untuk kita contoh. Orang inilah yang dianggap kelompok referensi seperti : guru, kepala suku dan lain-lain.

3.      Sumber-sumber daya

Yang termasuk adalah fasilitas-fasilitas misalnya : waktu, uang, tenaga kerja, ketrampilan dan pelayanan. Pengaruh sumber daya terhadap perilaku dapat bersifat positif maupun negatif.

4.     Kebudayaan

Perilaku normal, kebiasaan, nilai-nilai dan pengadaan sumber daya di dalam suatu masyarakat akan menghasilkan suatu pola hidup yang disebut kebudayaan. Perilaku yang normal adalah salah satu aspek dari kebudayaan dan selanjutnya kebudayaan mempunyai pengaruh yang dalam terhadap perilaku.

Dari uraian tersebut diatas dapat dilihat bahwa, alasan seseorang berperilaku. Oleh sebab itu, perilaku yang sama diantara beberapa orang dapat berbeda-beda penyebab atau latar belakangnya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Azwar, Azrul, DR. MPH. Administrasi Kesehatan ; JakartaBina Rupa Aksara, 1988Maidin, Alimin,dr.MPH, Perencanaan dan Evaluasi Kesehatan

Notoatmodjo, Soekidjo. 2007. Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Rineka Cipta.

http://ridwanamiruddin.wordpress.com/2007/04/26/bab-v-identifikasi-masalah-kesehatan/

Pengaruh Proses Pengetahuan Dalam Bentuk Sikap/Perilaku

Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan umumnya datang dari pengalaman, juga dapat diperoleh dari informasi yang disampaikan orang lain, didapat dari buku, atau media massa dan elektronik.

Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yaitu indera penglihatan, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Ever Behavior). Pada dasarnya pengetahuan terdiri dari sejumlah fakta dan teori yang memungkinkan seseorang dapat memahami sesuatu gejala dan memecahkan masalah yang dihadapi.

Pengetahuan dapat diperoleh dari pengalaman langsung ataupun melalui pengalaman orang lain. Pengetahaun dapat ditingkatkan melalui penyuluhan, baik secara individu maupun kelompok, untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan yang bertujuan untuk tercapainya perubahan perilaku individu, keluarga dan masyarakat dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan optimal.

Pengetahuan dalam bentuk sikap/perilaku

Pengetahuan yang di peroleh baik secara langsung maupun dari pengalaman orang lain selalu memiliki tingkatan-tingkatan seiring dengan bertambaha dan berkembangnya pengetahuan itu.

Pada saat memperoleh pengetahuan seseorang akan memulai pengetahuannya dalam proses sekedar tahu, yang kemudian meningkat menjadi pemahaman setelah memperoleh informasi yang cukup untuk mengembangkan pengetahuan itu. Dan seiring dengan proses interaksi yang berlangsung dinamis dan terus-menerus menjadikan pengetahuan yang didapat menjadi sesuatu yang akhirnya menyatu dengan individu tersebut dan sedikit banyak akan mempengaruhi pola perilakunya.

Contoh 1 : Seorang ibu yang tahu bahwa anak usia dini memerlukan lebih banyak asupan nutrisi untuk menunjang tumbuh kembangnya, akan memberikan gizi yang cukup untuk anaknya. Baik dengan memberikan menu-menu yang memenuhi standar gizi nasional (4sehat 5 sempurna), maupun dengan menjaga pola makan anak yang sering kali anak usia dini gemar sekali membeli jajanan di pinggir jalan yang amat jauh dari kata higenis.

Contoh 2 : Berbeda dengan ibu yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang gizi anaknya. Pengetahuannya hanya berbatas pada pengalaman nenek moyang ataupun mitos-mitos yang menyebar di masyarakat. Umumnya para ibu ini mengurangi asupan daging, telur, ikan (protein) dengan alasan takut anaknya akan menjadi cacingan ataupun menjadi gatal-gatal karena terlalu banyak mengkonsumsi lauk hewani.

Dalam dua kasus di atas sangat jelas perbedaan perilaku pada individu yang kurang mendapat pengetahuan yang cukup. Sehingga pola periku dan sikapnya pun masih kolot dan cenderung menuruti mitos-mitos yang ada sebagai daasar pengetahuannya.

Perilaku seseorang sangat ditentukan oleh pengetahuannya akan proses pengembangan pengetahuan yang dimilikinya untuk memperbaiki perilaku.

Memahami Konsep Pendidikan

Proses pendidikan dapat terjadi secara sengaja ataupun tidak sengaja. Proses pendidikan yang berlangsung secara sengaja tentunya emerlukan dasar pemikiran yang benar dan kuat guna tercapainya proses pendidikan yang baik dan tearah dengan benar.

Sebagai contoh :

Seorang anak memperkaya jiwanya dengan bermain, dan mainan memperkaya pengetahuannya dengan mendengar, melihat dan menanyakan, belajar bicara dan menulis. Pertumbuhan akan memuaskan dengan hubungan baik antara ibu dengan anak-anaknya.

Mendidik anak berarti memberikan pegertian tentang kebiasaan yang baik sehingga menjadikan anak penuh kasih saying. Hal-hal demikian dapat dicapai dengan contoh-contoh yang baik dan berwibawa, seorang anak mempunyai penglihatan yang tajam sekali, akan tetapi belum mempunyai pengertian, pendapat atau kritik. Ia belum dapat membedakan antara yang baik dan yang  jelek. Contoh-contoh orangtua mempunyai arti yang sangat penting baginya.

Dalam keluarga yang tentram, bahagia dan sejahtera, pendidikan tidak akan mengalami kesukaran. Perhatikan juga bahwa kewibawaan yang berlebihan akan menyebabkan anak menjadi penakut dan merasa kurang dari taraanak-anak yang lain, sedangkan kewibawaan yang kurang dapat menyebabkan anak tidak taat dan anti sosial.

 

Dasar-dasar Pendidikan untuk Anak ialah

Membiasakan diri untuk melakukan sesuatu pada waktu-waktu tertentu dan teratur. Misalnya, bangun, makan, tidur siang, tidur malam. Kebisaan demikian berarti menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Menurut contoh di atas dapat diartikan bahwa pendidikan yang dimulai sejak dini bersumber dari bimbingan perilaku dan kebiasan. Dimana tiap individu memiliki kecenderungan untuk meniruru. Sedangkan pendidikan yang dimulai dari kebiasaan cepat atau pun lambat akan berubah menjadi pola perilaku dan pembawaan diri.

Dan Nampak jelas hubungan antara proses pendidikan dan pola seseorang dalam berperilaku. Dan akan terus berkembang seiring dengan frekuensi pergaulan dan interaksinya dengan lingkungan dan orang-orang disekitarnya

(di sunting dari buku Ilmu Kesehatan Masyarakat “Kegiatan KIA di Puskesmas dan Permasalahannya” Dr.Dainur MPH)

 

Penyimpangan

 

Namun tidak selamanya pengetahuan dapat mempengaruhi sikap/ perilaku. Contoh singkat, apa bila seorang yang mengetahui bahwa dia sedang dalam kondisi sakit dan kadar garam dalam tubuhnya banyak, harus mengurangi konsumsi garam. Namun pada akhirnya ia pun tidak mengindahkannya dan tetap saja memberi asupan makanan yang menggunakan garam dengan alasan kurang sedap suatu bahan makan apabila tidak di beri cukup garam yang sesuai dengan selera lidahnya.

Model Konseptual Asuhan Kebidanan-Ramona Mercer

BAB II

ISI

 

2.1. Asumsi yang Mendasari Model Konseptual

 

Maternal Role Attainment-Becoming a Mother adalah model konseptual keperawatan dan kebidanan yang dikemukakan oleh Ramona T. Mercer. Model ini tercipta setelah Mercer melakukan perbagai riset yang berkenaan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi parental attachment pada ibu post partum dan salah satu faktor yang mempengaruhi pencapaian peran ibu tersebut adalah emosional bayi baru lahir. Mercer mengidentifikais bahwa komponen emosional bayi yang mempengaruhi peran ibu tersebut adalah temperamen bayi, kemampuan memberikan isyarat, penampilan, karakteristik umum, responsiveness dan kesehatan umum.

Asumsi Mercer berkaitan dengan pengembangan model maternal role attainment ini di antaranya adalah bayi baru lahir diyakini sebagai parner yang aktif dalam proses pencapaian peran ibu, mempengaruhi dan dipengaruhi oleh peran ibu serta peran pasangan dan bayinya akan mereflesikan kompetensi ibu dalam menjalankan perannya sehingga dapat tumbuh dan berkembang.

Perkembangan identitas peran ibu sangat terpengaruh oleh kondisi psikologis dan perilaku ibu dan bayi. Pada bayi respon perkembangan yang berpengaruh terhadap interaksi dengan perkembagan identitas peran ibu antara lain adanya kontak mata sebagai isyarat komunikasi, refleks menggenggam, refleks tersenyum dan tingkah laku yang tenang sebagai respon terhadap perawatan ibu, konsistensi tingkah laku interaksi dengan ibu serta respon ibu terhadap bayinya dapat meningkatkan pergerakan bayi.

Dengan demikian kondisi bayi baru lahir sangat berpengaruh terhadap pencapaian dan pengembangan peran ibu sehingga perawat bayi baru lahir adalah komponen penting dalam penerapan model konseptual yang dikemukakan oleh Mercer.

 

2.2. Sumber Teori

 

Model pencapaian peran maternal yang dikemukakan oleh Mercer dengan menggunakan konsep Bronfenbrenner’s (1979) memperlihatkan bagaimana lingkungan berpengaruh terhadap pencapaian peran ibu.

 

2.3. Konsep Utama dan Definisi

 

Teori ini lebih menekan pada stress antepartum (sebelum melahirkan) dalam pencapaiaan peran ibu, marcer membagi teorinya menjadi dua pokok bahasan:

1. Efek stress Anterpartum

stress Anterpartum adalah komplikasi dari resiko kehamilan dan pengalaman negative dari hidup seorang wanita, tuuan asuhan yang di berikan adalah : memberikan dukungan selama hamil untuk mengurangi ketidak percayaan ibu.

Penilitian mercer menunjukkan ada enam faktor yang berhubungan dengan status kesehatan ibu, yaitu:

 

1. Hubungan Interpersonal

2. Peran keluarga

3. Stress anterpartum

4. Dukungan social

5. Rasa percaya diri

6. Penguasaan rasa takut, ragu dan depresi

Maternal role menurut mercer adalah bagai mana seorang ibu mendapatkan identitas baru yang membutuhkan pemikiran dan penjabaran yang lengkap dengan dirinya sendiri.

2. Pencapaian peran ibu

Peran ibu dapat di capai bila ibu menjadi dekat dengan bayinya termasuk mengekspresikan kepuasan dan penghargaan peran, lebih lanjut mercer menyebutkan tentang stress anterpartum terhadap fungsi keluarga, baik yang positif ataupun yang negative. Bila fungsi keluarganya positif maka ibu hamil dapat mengatasi stress anterpartum, stress anterpartum karena resiko kehamilan dapat mempengaruhi persepsi terhadap status kesehatan, dengan dukungan keluarga dan bidan maka ibu dapat mengurangi atau mengatasi stress anterpartum.

Perubahan yang terjadi pada ibu hamil selama masa kehamilan (Trisemester I, II dan III) merupakan hal yang fisiologis sesuai dengan filosofi asuhan kebidanan bahwa menarche, kehamilan, nifas, dan monopouse merupakan hal yang fisiologis.

Perubahan yang di alami oleh ibu, selama kehamilan terkadang dapat menimbulkan stress anterpartum, sehingga bidan harus memberikan asuhan kepada ibu hamil agar ibu dapat menjalani kehamilannya secara fisiologis (normal), perubahan yang di alami oleh ibu hamil antara lain adalah:

a. Ibu cenderung lebih tergantung dan lebih memerlukan perhatian sehingga dapat        berperan sebagai calon ibu dan dapat memperhatikan perkembangan bayinya.

b. ibu memerlukan sosialisasi

c. ibu cenderung merasa khawatir terhadap perubahan yang terjadi

pada tubuhnya

d. Ibu memasuki masa transisi yaitu dari masa menerima kehamilan kehamilan ke  masa menyiapkan kelahiran dan menerima bayinya.

 

2.4. Faktor Tahapan Pelaksanaan Peran Ibu ,Menurut Mercer

Empat tahapan dalam melaksanakan peran ibu menuru Mercer adalah sebagai berikut :

a. Anticipatory

Saat sebelum wanita menjadi ibu, di mana wanita mulai melakukan penyesuaian social dan psikologis dengan mempelajri segala sesuatuyang di butuhkan untuk menjadi seorang ibu.

b. Formal

Wanita memasuki peran ibu yang sebenarnya, bimbingan peran di butuhkan sesuai dengan kondisi system social

c. Informal

Di mana wanita telah mampu menemukan jalan yang unik dalam melaksanakan perannya

d. Personal

merupakan peran terakhir, di mana wanita telah mahir melakukan perannya sebagai ibu.

Sebagai bahan perbandingan, Reva Rubin menyebutkan peran ibu telah di mulai sejak ibu menginjak kehamilan pada masa 6 bulan setelah melahirkan, tetapi menurut Mercer mulainya peran ibu adalah setelah bayi bayi lahir 3-7 bulan setelah dilahirkan.

 

2.5. Faktor yang Mempengaruhi Wanita dalam Menjalankan Peran sebagai Ibu.

Wanita dalam menjalankan peran ibu di pengaruhi oleh faktor –faktor sebagai berikut:

a. Faktor ibu

1. Umur ibu pada saat melahirkan

2. Persepsi ibu pada saat melahirkan pertama kali

3. Stress social

4. Memisahkan ibu pada anaknya secepatnya

5. Dukungan social

6. Konsep diri

7. Sifat pribadi

8. Sikap terhadap membesarkan anak

9. Status kesehatan ibu.

 

b. Faktor bayi

1. Temperament

2. Kesehatan bayi

 

c. Faktor-faktor lainnya

1. Latar belakang etnik

2. Status pekawinan

3. Status ekonomi

 

 

 

 

 

 

 

2.6. Faktor-Faktor yang mendukung Peran Wanita sebagai Ibu.

Dari faktor social support, mercer mengidentifikasikan adanya empat factor pendukung:

a. Emotional support

Yaitu perasaan mencintai, penuh perhatian, percaya dan mengerti.

 

b. Informational support

Memberikan informasi yang sesuai dengan kebutuhan ibu sehingga dapat

membantu ibu untuk menolong dirinya sendiri

c. Physical support

Misalnya dengan membantu merwat bayi dan memberikan tambahan dana

d. Appraisal support

Ini memungkinkan indifidu mampu mengevaluasi dirinya sendiri dan pencapaiaan peran ibu

Mercer menegaskan bahwa umur, tingkat pendidikan, ras, status perkawinan, status ekonomi dan konsep diri adalah faktor-faktor yang sangat berpengaruh dalam pencapaiaan peran ibu. Peran bidan yang di harapkanoleh mercer dalam teorinya adalah membantu wanita dalam melaksanakan tugas dan adaptsi peran dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pencapaiaan peran ini dan kontribusi dari stress antepartum.

BAB III

PENUTUP

 

3.1. Kesimpulan

Teori Mercer menjadi panduan bagi bidan dalam membantu pencapaian peran ibu. dimana pada teori ini mengemukakan bagaimana proses pencapaian peran ibu dan proses akan menjadi seorang ibu dengan berbagai asumsi yang mendasarinya.Model ini juga menjadi pedoman bagi bidan dalam melakukan pengkajian pada klien dan lingkungannya,mengidentifikasi tujuan klien memberikan bantuan terhadap klien dengan pendidikan dan dukungan serta memfasilitasi interaksi antara ibu dan bayi sedini mungkin.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ikatan Bidan Indonsia. (2008). 50 tahun IBI Bidan Menyongsong Masa Depan. Jakarta : PP IBI

Soepardan, Suryani.(2007). Konsep Kebidanan. Jakaarta : EGC

Andini, Aditya.(2003). Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya : Prima Media

Tiran, Denise. (2005) Kamus Saku Bidan. Ed.10. Jakarta :EGC

Marriner-Tomey & Alligood (2006). Nursing theorists and their works. 6th Ed.St.Louis:
Mosby Elsevier, Inc
Reed, P.G, Shearer, N.C., & Nicoll, L. H. (2004). Perspectives on nursing theory. 4th Ed.
Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.

 

Dasar Konsep Kebidanan

MATERI

KONSEP KEBIDANAN

 

   Pendahuluan

Konsep adalah :

  • Suatu gagasan abstrak, suatu jembatan dari fikiran yang meliputi imajinasi, kata-kata yang melukiskan sifat objek atau suatu peristiwa
  • Imajinasi mental yang membantu mengatur kenyataan dalam kata-kata yang mana memungkinkan kita melakukan aktivitas sehari-hari dalam keadaan yang teratur

Konsep itu tidak nyata tetapi diciptakan untuk melukiskan kenyataan, dalam pengertian lebih sederhana konsep diartikan sebagai bagan atau rencana

Filosofi Kebidanan

  • Pengertian

Ditinjau dari segi bahasa

Filosofi : filsafat, falsafah

Secara harfiah filosofi adalah cinta pada kebijaksanaan (Neil Thompson, 2001:64)

Filosofi : ilmu yang mengkaji tentang akal budi mengenai hakikat yang ada (sebab, asal dan hukumnya) (kamus ilmiah Popular, 2002)

  • Pendapat para ahli

Filosofi adalah disiplin ilmu yang difokuskan pada pencarian dasar-dasar dan penjelasan yang nyata (Chinn & Kramer, 1991:17)

Filosofi adalah pendekatan berfikir tentang kenyataan meliputi tradisi, agama, marxime, existentialisme dan fenomena yang berhubungan dengan kesehatan masyarakat (person dan Vaughan, 1988)

 

Diinterpretasikan seperti kebijaksanaan atau pengetahuan tentang sekeliling kita dan apa penyebabnya. Filosofi merupakan kalimat eksplisit tentang kepercayaan tentang nilai apa yang mempengaruhinya

Filosofi adalah ungkapan seorang tentang nilai, sikap dan kepercayaan meskipun pada waktu yang lain ungkapan tersebut merupakan kepercayaan kelompok yang lebih sering disebut ideologis (Moya Davis, 1993)

Filosofi adalah sesuatu yang bisa memberikan gambaran dan berperan sebagai tantangan untuk memahami dan menggunakan filosofi sebagai dasar untuk memberikan informasi dan meningkatkan praktek profesional.

 

  • Filosofi sering dianggap sebagai sesuatu yang :

a)   Elit

Hanya untuk golongan tertentu (golongan berada) dan bukan untuk konsumsi umum

b)   Sulit

Beberapa aspek dari filosofi adalah sulit, beberapa aspek hampir tidak kentara, kompleks dan berbelit-belit. Tetapi hal ini dapat dengan mudah dimengerti

c)    Obscure

Filosofi sering dianggap sebagai hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan sehari-hari, sebuah aktivitas dimana lebih difokuskan pada hal-hal yang tidak jelas dari pengalaman sehari-hari

d)   Abstrak

Jelas pada beberapa hal filosofi adalah abstrak. Filosofi mencoba untuk membangkitkan tingkat pengertian kita, yang pada tingkat tertentu tidak dapat dihindarkan.

Bagaimanapun fakta bahwa filosofi adalah tidak jelas / abstrak, tetapi tidak berarti bahwa hal itu berakibat tidak ada penerapan yang nyata / konkret. Filosofi merupakan suatu alat yang berharga dalam memfasilitasi proses menggabungkan teori dan praktek.

Tinjauan filosofi dalam ilmu kebidanan

  1. 1.    Pendekatan Ontologis

Secara ontologis, ilmu membatasi ilmu penelaah keilmuannya hanya pada daerah-daerah dalam jangkauan pengalaman manusia. Objek penelaah yang berada dalam batasan prapengalaman (penciptaan manusia) dan pasca pengalaman (surga dan neraka) diserahkan ilmunya kepada pengetahuan lain.

  1. 2.    Pendekatan Epistemologis

Landasan epistemology ilmu tercermin secara operasional dalam metode ilmiah. Pada dasarnya metode ilmiah merupakan cara ilmu memperoleh dan menyusun tubuh pengetahuan berdasarkan :

  • Kerangka pemikiran yang bersifat logis, dengan argumentasi yang bersifat konsisten dengan pengetahuan sebelumnya yang telah berhasil disusun.
  • Menjabarkan hipotesis yang merupakan deduksi dari kerangka pemikiran tersebut.
  • Melakukan ferifikasi terhadap hipotesis termasuk untuk menguji kebenaran pendataan secara faktual.
  1. 3.    Pendekatan Aksiologis

Aksiologis keilmuan menyangkut nilai-nilai yang berkaitan dengan pengetahuan ilmiah baik secara internal, eksternal maupun social. Nilai internal berkaitan dengan wujud dan kegiatan ilmiah dalam memperoleh pengetahuan tanpa mengesampingkan fitrah manusia. Nilai eksternal menyangkut nilai-nilai yang berkaitan dengan penggunaan pengetahuan ilmiah. Nilai social menyangkut pandangan masyarakat yang menilai keberadaan suatu pengetahuan dan profesi tertentu.

 

 

 

 

 

Filosofi kebidanan merupakan keyakinan atau pandangan hidup bidan yang digunakan sebagai kerangka fikir dalam memberikan asuhan kepada klien, yaitu :

  1. 1.    Keyakinan tentang kehamilan dan persalinan

Bidan yakin bahwa perempuan dan persalinan adalah proses alamiah dan bukan suatu penyakit, namun harus tetap waspada karena kondisi yang normal dapat tiba-tiba menjadi tidak normal.

 

  1. 2.    Keyakinan tentang perempuan

Bidan yakin bahwa perempuan merupakan pribadi yang unik, mempunyai hak mengontrol dirinya sendiri, kebutuhan, harapan dan keinginan yang patut dihormati.

 

  1. 3.    Keyakinan mengenai fungsi profesi dan pengaruhnya

Fungsi utama dari asuhan kebidanan adalah untuk memastikan kesejahteraan perempuan bersalin dan bayinya. Bidan mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi klien dan keluarganya.

Proses yang normal harus dihargai dan dipertahankan dan apabila bermasalah diselesaikan dengan menggunakan teknologi tepat guna dan merujuknya bila perlu

 

  1. 4.    Keyakinan tentang pemberdayaan dan membuat keputusan

Keputusan yang dipilih merupakan tanggung jawab bersama antara perempuan, keluarga dan pemberi asuhan. Perempuan mempunyai hak untuk memilih dan memutuskan tentang pemberi asuhan  dan tempat melahirkan

 

  1. 5.    Keyakinan tentang asuhan

Bidan yakin bahwa fokus asuhan kebidanan adalah upaya pencegahan dan peningkatan kesehatan yang menyeluruh, meliputi pemberi informasi yang relevan dan objektif, konseling serta memfasilitasi klien yang menjadi tanggung jawabnya.

Asuhan harus diberikan dengan keyakinan bahwa dengan dukungan dan perhatian, perempuan akan bersalin dengan aman, memuaskan, menghormati dan memberdayakan perempuan dan keluarga.

 

  1. 6.    Keyakinan tentang kolaborasi dan kemitraan

Bidan yakin bahwa dalam memberikan asuhan tetap mempertahankan, mendukung dan menghargai proses fisiologis. Intervensi dan penggunaan teknologi dalam asuhan hanya atas indikasi dan rujukan yang efektif dilakukan untuk menjamin keselamatan ibu dan bayinya.

 

  1. 7.    Keyakinan tentang fungsi profesi dan pemanfaatannya

Bidan yakin bahwa dalam mengembangkan kemandirian profesi, kemitraan dan pemberdayaan perempuan serta tim kesehatan lainnya selama memberikan asuhan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.

Asuhan, dukungan, bimbingan serta kepedulian kepada klien dalam membantu mengatasi masalah dilakukan secara berkesinambungan.

 

Prinsip Dasar Filosofi

  • Hubungan antara ibu dan bidan adalah dasar dalam memberikan asuhan yang baik
  • Ibu adalah focus dalam memberikan asuhan
  • Memberikan pilihan pada ibu untuk melahirkan
  • Menggunakan seluruh kemampuan dan ketrampilan bidan
  • Asuhan yang berkesinambungan
  • Asuhan dasar komunitas
  • Bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan
  • Memberikan asuhan yang ramah kepada ibu dan bayinya

 

Filosofi Asuhan Kebidanan

  • Memperhatikan keamanan klien
  • Memperhatikan kepuasan klien
  • Menghormati martabat manusia
  • Menghormati akan perbedaan kultur dan etika
  • Berpusat pada konteks keluarga
  • Berorientasi pada promosi kesehatan

Definisi Bidan

Riwayat Istilah Bidan

“KLINKERT” (1892)         BIDAN berasal dari bahasa sansekerta “WIDWAN” yang artinya cakap

Membidan artinya selamatan bagi seorang penolong persalinan yang mohon diri setelah bayi berusia 40 hari (Kamus besar Bahasa Indonesia)

MIDWIFE dalam bahasa Inggris artinya “With Woman” yang artinya pendamping wanita.

Istilah MIDWIFE mulai digunakan pada tahun 1803 dan MIDWIFERY pada tahun 1483

OBSTETRICS          Bahasa latin yang artinya juga pendamping wanita

Di Inggris kedua kata tersebut dipakai sebagai kata sinonim (Hellman & Prichard, 1971)

OBSTETRICS          juga didefinisikan sebagai cabang ilmu kedokteran yang berkaitan dengan manajemen kehamilan, persalinan dan nifas baik normal maupun abnormal (Hellman & Pritchard, 1971)

 

v Bidan adalah profesi yang diakui secara nasional maupun internasional dengan sejumlah praktisi seluruh dunia, definisi internasional tentang bidan dan prakteknya telah diakui oleh : International Confederation Of Midwives (ICM) 1972 dan International Federation Of Ginecologist and Obstetrian tahun 1973 WHO dan badan lainnya, sebagai berikut :

Midwife is personal who having been  regulary admitted to a midwifery educational program fully recognized in the which it is located, has succresfully completed the prescribed course of studies in midwifery and has regquisite qualification to be registere and or legally licensed to practice midwifery.

She must be able to give the necessary supervision, care and advice to woman during pregnancy, labor, and post partum period, to conduct deliverties on herown responsibility, and to care for the newborn and the infant. This care includes preventive measure, the detection of abnormal condition in mother and child. The procurement of medical assistance, and the execution of emergency measure in the absence, an the of medical help.

She has an important task in coseling and education, not only for patients, but also within the family and community.

Their work should involve antenatal education and preparation for parenthood and extends to certain areas of gynecology, family planning, and child care. She may practice in hospital, clinics, health units, domiciliary condition or any other service.

 

v  Kebidanan adalah suatu disiplin ilmu yang mempunyai keunikan tersendiri dalam tubuh pengetahuan yaitu menggali dan menjelaskan tentang aspek kesehatan dan persalinan, secara rasional untuk mengurangi intervensi dan pendekatan mendukung dalam memberi perawatan, dan lebih lanjut dalam menggabungkan aspek manajemen yang mengidentifikasi masalah atau masalah potensial. Hal ini dilakukan terus menerus untuk mengidentifikasi masalah agar mendapat intervensi medis yang tepat (Linda V. Walsh,4:2001)

 

v Kesimpulan

Bidan mempunyai tugas penting dalam memberi bimbingan, asuhan dan penyuluhan kepada ibu hamil, nifas dan menolong persalinan dengan tanggung jawabnya sendiri serta memberikan asuhan pada bayi baru lahir. Asuhan ini termasuk tindakan pencegahan, deteksi abnormal ibu dan anak. Usaha mendapatkan bantuan medik dan melaksanakan tindakan kedaruratan dimana tidak ada tenaga medis. Dia mempunyai tugas penting dalam pendidikan dan konseling tidak hanya untuk klien tetapi juga keluarga dan masyarakat. Tugas ini meliputi pendidikan antenatal, persiapan menjadi orang tua dan meluas ke bidang tertentu ginekologi, KB dan asuhan terhadap anak. Bidan dapat praktek di rumah sakit, klinik, unit-unit kesehatan lingkungan pemukiman dan unit pelayanan lainnya.

Dari pengertian diatas, maka dapat didefinisikan bahwa bidan Indonesia adalah : seorang wanita yang telah mengikuti dan menyelesaikan pendidikan bidan yang telah diakui pemerintah dan lulus ujian sesuai dengan persyaratan yang berlaku.

 

KESIMPULAN

  • Kebidanan adalah merupakan ilmu yang terbentuk dari sintesa berbagai disiplin ilmu (multi disiplin) yang terkait dengan pelayanan kebidanan, meliputi ilmu kedokteran, ilmu keperawatan, ilmu social, ilmu perilaku, ilmu budaya, ilmu kesehatan masyarakat dan ilmu manajemen untuk dapat memberikan pelayanan kepada ibu dalam masa pra konsepsi, masa hamil, bersalin, postpartum, bayi baru lahir, pelayanan tersebut meliputi pendeteksian keadaan abnormal pada anak dan ibu, melaksanakan konseling dan pendidikan kesehatan terhadap individu, keluarga dan masyarakat.

 

Pelayanan Kebidanan

Adalah seluruh tugas yang menjadi tanggung jawab praktek profesi bidan dalam system pelayanan kesehatan yang bertujuan meningkatkan kesehatan ibu dan anak dalam rangka mewujudkan kesehatan keluarga dan masyarakat

 

Praktik Kebidanan

Adalah penerapan ilmu kebidanan dalam memberikan pelayanan/ asuhan kebidanan kepada klien dengan pendekatan manajemen kebidanan

 

Asuhan Kebidanan

Adalah penerapan fungsi dan kegiatan yang menjadi tanggung jawab dalam memberikan pelayanan kepada klien yang mempunyai kebutuhan atau masalah dalam bidang kesehatan ibu masa hamil, masa persalinan, nifas, bayi setelah lahir serta keluarga.

 

PELAYANAN KEBIDANAN

Pelayanan kebidanan adalah penerapan ilmu kebidanan melalui asuhan kebidanan kepada klien yang menjadi tanggung jawab bidan, mulai dari kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, keluarga berencana, termasuk kesehatan reproduksi wanita dan pelayanan kesehatan masyarakat.

Pelayanan kebidanan merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, yang difokuskan pada pelayanan kesehatan wanita dalam siklus reproduksi, bayi baru lahir dan balita untuk mewujudkan kesehatan keluarga sehingga tersedia sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dimasa depan.

Pelayanan kebidanan dibedakan berdasarkan kewenangan bidan, yaitu :

1)      Layanan kebidanan primer / mandiri, merupakan asuhan kebidanan yang diberikan kepada klien dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab bidan

2)      Layanan kolaborasi, merupakan asuhan kebidanan yang diberikan kepada klien dengan tanggung jawab bersama semua pemberi layanan yang terlibat (misal : bidan, dokter dan atau tenaga kesehatan professional lainnya). Bidan adalah anggota tim.

3)      Layanan rujukan, merupakan asuhan kebidanan yang dilakukan dengan menyerahkan tanggung jawab kepada dokter, ahli atau tenaga professional lain untuk mengatasi masalah kesehatan klien di luar kewenangan bidan dalam rangka menjamin kesejahteraan ibu dan anaknya.

 

 

 

 

 

 

PRATIK KEBIDANAN

 

Pratik kebidanan adalah penerapan ilmu kebidanan melalui pelayanan / asuhan kebidanan kepada klien dengan pendekatan manajemen kebidanan. Lingkup pratik kebidanan meliputi asuhan mandiri / otonomi  pada anak perempuan, remaja putri, dan wanita dewasa sebelum, selama kehamilan dan sesudahnya. Ini berarti bidan melakukan pengawasan, memberi asuhan dan saran yang diperlukan kepada wanita selama hamil, bersalin dan masa nifas. Pratik kebidanan dilakukan dalam sistem pelayanan kesehatan yang berorientasi pada masyarakat, dokter, perawat dan dokter spesialis di pusat-pusat rujukan.

 

ASUHAN KEBIDANAN

 

Asuhan kebidanan adalah penerapan fungsi, kegiatan dan tanggung jawab bidan dalam pelayanan yang diberikan kepada klien yang memilki kebutuhan dan / atau masalah kebidanan (kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, keluarga berencana, kesehatan reproduksi wanita, dan pelayanan kesehatan masyarakat).

Tujuan asuhan kebidanan adalah menjamin kepuasan dan keselamatan ibu dan bayinya sepanjang siklus reproduksi, mewujudkan keluarga bahagia dan berkualitas melalui pemberdayaan perempuan dan keluarganya dengan menumbuhkan rasa percaya diri.

Keberhasilan tujuan asuhan kebidanan antara lain dipengaruhi oleh adanya keterikatan penerapan masing-masing komponen yang dapat mempengaruhi keberhasilan tujuan asuhan, baik dari pemberi asuhan maupun penerima asuhan. Komponen yang dimaksud adalah sebagai berikut :

 

  1. Determinan, adalah faktor penentu dalam memberikan asuhan yang meliputi :
    1. Nilai, etika, falsafah yang dianut oleh bidan
    2. Kepekaan terhadap kebutuhan asuhan
      1. Kemampuan memfasilitasi dan mengambil keputusan dalam bertindak

 

  1. Kemapuan wanita
    1. Kemampuan wanita untuk beradaptasi
    2. Kemampuan mengambil keputusan
    3. Informasi dan konseling yang diterimanya
    4. Dukungan yang diterimanya

 

  1. Proses asuhan. Proses asuhan yang digambarkan dalam manajemen proses kebidanan dipengaruhi oleh :
    1. Aspek jenis tindakan / kegiatan yang dilakukan. Ini adalah komponen yang menjelaskan tentang apa yang dilakukan bidan dan lingkup kompetensi yang harus dimiliki bidan. Pemberi asuhan kebidanan harus memperhatikan faktor-faktor berikut :
  • Keputusan berlandaskan pemikiran kritis
  • Praktik asuhan berdasarkan fakta ( eviden based)
  • Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab
  • Pemakaian teknologi secara etis
  • Menghormati perbedaan budaya dan etik
  • Mengoptimalkan / mengajarkan klien tentang promosi kesehatan, dengan memberikan pilihan berdasarkan informasi (informed choice) dan melibatkan dalam pengambilan keputusan
  • Mempraktikkan perilaku sabar yang rasional, memberi advokasi bagi wanita dan melakukan rujukan ke profesional ahli untuk kasus komplikasi
  1. Aspek strategi
  • Menggunakan pendekatan yang ramah dan berpusat pada wanita
  • Menyesuaikan keahlian untuk memenuhi kebutuhan klien yang khusus
  • Melakukan intervensi dan rujukan yang tepat
  • Memelihara kepercayaan dan saling menghargai antara bidan dan klien
  • Menawarkan panduan antisipasi (anticipatory guidence), memfasilitasi serta mendukung keikutsertaan klien dalam pengambilan keputusan
  • Memberi asuhan secara fleksibel dan kreatif
  • Mempromosikan dan mnedukung hak asasi manusia (HAM)

 

Fungsi Profesi dan Pengaruhnya

Profesi kebidanan secara nasional diakui dalam undang-undang maupun peraturan pemerintah Indonesia yang merupakan salah satu tenaga pelayanan kesehatan profesional dan secara internasional diakui oleh International Confederation of Midewifeves (ICM), FIGO, dan WHO.

Tugas, tanggung jawab dan wewenang profesi bidan yang telah diatur dalam beberapa peraturan maupun keputusan Mentri Kesehatan ditujukan dalam rangka membantuprogram pemerintah bidang kesehatan khususnya ikut dalam rangka menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Prental (AKP), Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Pelayanan ibu hamil, melahirkan, nifas yang aman, pelayanan keluarga berencana (KB), pelayanan kesehatan masyarakat dan pelayanan kesehatan reproduksi lainnya.

Fungsi utama dari kebidanan adalah untuk memastikan kesejahteraan perempuan masa bersalin dan bayinya. Bidan mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi baik sifat asuhan maupun pemberian asuhan kepada perempuan masa bersalin dan keluarganya. Walaupun Bidan mempunyai pengaruh dalam pemberian asuhan, namun Bidan dalam melaksanakan asuhan kepada wanita harus sesuai dengan kewenangan yang ada di Permenkes nomor 900/MENKES/SK/VII/2002 tentang registrasi dan praktik Bidan. Jadi, setiap bidan dimana ia bekerja (baik di RS, praktik swasta, maupun tempat pelayanan kesehatan yang lain) mempunyai wewenang yang sama.

Penggunaan teknologi dalam pelayana kebidanan harus memperhatikan setiap efek samping yang dapat ditimbulkan. Bidan dalam penggunaan teknologi ini juga harus memperhatikan batas wewenang yang dimilinya. Misalnya dalam penggunaan USG. Bidan tidak mempunyai kewenangan untuk menggunakan USG.

Poses yang fisiologis harus di hargai, didukung dan dipertahankan tapi bila muncul penyulit, harus digunakan teknologi dan rujukan yang efektif untuk memperoleh hasil yang optimal, yaitu ibu dan bayi yang sehat. Rujukan efektif adalah rujukan dengan prinsip BAKSOKUDA, yaitu :

B                :        BIDAN, pastikan bahwa ibu dan bayi baru lahir didampingi oleh peniolog peralinan yang kompeten dan memiliki kemampuan untuk menatalaksana kedaruratan obstetri dan bayi baru lahir untuk dibawa ke fasilitas rujukan.

A                :        ALAT : Bawa perlengkapan dan bahan-bahan untuk asuhan persalinan, masa nifas dan bayi baru lahir (tabung suntik, selang IV, dll) bersama ibu ketempat rujukan. Perlengkapan dan bahan-bahan tersebut mungkin akan diperlukan jika ibu melahirkan dalam perjalanan.

K                :        KELUARGA : Beritahu ibu dan keluarga mengenai kondisi terakhir ibu dan bayi dan mengapa perlu dirujuk. Suami atau keluarga harus menemani ke tempat rujukan.

S                 :        SURAT : Berikan surat ke tempat rujukan. Surat ini menggambarkan identifikasi mengenai ibu dan atau bayi baru lahir. Cantumkan alasan rujukan dan uraian dan uraian hasil pemeriksaan, asuhan atau obat-obatan yang telah diberikan. Lampirkan partograf kemajuan persalinan ibu saat rujukan.

O                :        OBAT : Bawa obat-obatan yang diperlukan saat merujuk.

K                :        KENDARAAN : Siapkan kendaraan yang paling memungkinkan untuk merujuk ibu dalam kondisi yang cukup nyaman. Selain itu pastikan bahwa kondisi kendaraan tersebut cukup baik untuk mencapai tempat rujukan.

U                :        UANG : Ingatkan keluarga untunk membawa dalam jumlah yang cukup untuk membeli obat-obatan dan bahan kesehatan lain yang diperlukan selama ibu atau bayi berada di fasilitas kesehatan rujukan.

DOA          :        Ingatkan keluarga untuk berdoa demi keselamtan dan mengharap pertolongan dari Allah.

 

PRILAKU PROFESIONAL DARI BIDAN MENCAKUP

  1. Dalam melaksanakan tugasnya, bidan berpeganga teguh pada filosofi etika profesi dan aspek legal.
  2. Bertanggung jawab dalam keputusan klinis yang dibuatnya
  3. Senantiasa mengikuti perkembangan pengetahuan dan keterampilan mukhtahir secara berkala
  4. Menggunakan konsultasi dan rujukan yang tepat selama memberi asuhan kebidanan
  5. Menghargi dan memanfaatkan budaya setempat sehubungan dengan praktik kesehatan, kehamilan, kelahiran, periode pasca salin, bayi baru lahir dan anak
  6. Menggunakan model kemitraan dalam bekerjasama dengan kaum wanita/ ibu agar mereka dapat menentukan pilihan yang telah diinformasikan tentang semua aspek asuhan, meminta persetujuan secara tertulis supaya mereka bertanggung jawab atas kesehatan sendiri
  7. Menggunakan ketrampilan berkomunikasi
  8. Bekerjasama dengan pertugas kesehatan lain untuk meningkatkan pelayana kesehatan ibu dan keluarga.

Bidan Sebagai Profesi

BAB II

ISI DAN PEMBAHASAN

 

2.1. Bidan Sebagai Suatu Profesi

Sejarah menunjukkan bahwa kebidanan merupakan salah satu profesi tertentu di dunia sejak adanya peradaban umat manusia. Bidan lahir sebagai wanita terpercaya dalam mendampingi dan menolong ibu-ibu melahirkan. Profesi ini telah mendukung peran dan posisi seorang bidan menjadi terhormat di masyarakat karena tugas yang diembannya sangat mulia dalam memberikan semangat dan membesarkan hati ibu-ibu. Di samping itu dengan setia mendampingi dan menolong ibu-ibu dalam melahirkan sampai si ibu dapat merawat bayinya dengan baik. Sejak zaman prasejarah, dalam naskah kuno sudah terecatat bidan di Mesir (Siphrah ddan Poah) yang berani mengambil resiko membela keselamatan bayi-bayi laki-laki Bangsa Yahudi (sebagai orang-orang yang terjajah oleh Bangsa Mesir) yang diperintahkan oleh Firaun untuk dibunuh. Mereka sudah menunjukkan sikap etika moral yang tinggi dan takwa kepada Tuhan dalam membela orang-orang yang berada pada posisi lemah, yang pada zaman modern ini, kita sebut dengan peran advokasi. Dalam menjalankan tugas dan prakteknya, bidan bekerja berdasarkan pada pandangan fisiologis yang dinut, keilmuan, metode kerja, standar praktek pelayanan dan kode etik profesional yang dimilikiya.

 

2.1.2. Ciri-Ciri Bidan Sebagai Suatu Profesi

Bidan sebagai profesi memiliki ciri-ciri tertentu, yang dapat diuraikan sebagai berikut:

  1. Disiapkan melalui pendidikan formal agar lulusannya dapat melaksanakan /mengerjakan pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya secara profesional.
  2. Dalam menjalankan tugasnya, bidan memiliki alat yang dinamakan Standar Pelayanan Kebidanan, Kode Etik, dan Etika Kebidanan.
  3. Bidan memiliki kelompok pengetahuan yang jelas dalam menjalankan profesinya.
  4. Memiliki kewenangan dalam menjalankan tugasnya (Permenkes No. 572 Tahun 1996).
  5. Memberikan pelayanan yang aman dan memuaskan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
  6. Memiliki wadah organisasi profesi.
  7. Memiliki karakteristik yang khusus dan dikenal serta dibutuhkan masyarakat.
  8. Menjadikan bidan sebagai suatu pekerjaan dan sumber utama kehidupan.

 

2.1.2. Karakteristik Bidan Sebagai Suatu Profesi

Bidan sebagai profesi telah memiliki karakteristik profesi. Pada bab ini akan diuraikan lebih jelas tentang profesi bidan, yang meliputi :

  1. Sejarah perkembangan pelayanan dan pendidikan bidan.
  2. Dasar-dasar komseptual kebidanan.
  3. Batang tubuh keilmuan kebidanan.

 

2.2. Perkembangan Pendidikan dan Pelayanan Kebidanan

Perkembangan pendidikan dan pelayanan kebidanan di Indonesia tidak terlepas dari masa penjajahan Belanda, era kemerdekaan, politik/kebijakan pemerintah dalam pelayanan dan pendidikan tenaga kesehatan, kebutuhan masyarakat serta kemajuan ilmu dan teknologi.

Perkembangan pendidikan bidan berhubungan dengan perkembangan pelayanan kebidanan. Keduanya berjalan seiring untuk menjawab kebutuhan/tuntutan masyarakat akan pelayanan kebidanana. Yang dimaksud dalam pendidikan ini adalah, pendidikan formal dan non formal.

Pada zaman pemerintahan Hindia Belanda, angka kematian ibu dan anak-anak sangat tinggi. Tenaga penolong persalinan adalah dukun. Pada tahun 1807 (zaman Gubernur Jendral Hendrick William Daendels) para dukun dilatih dalam pertolongan persalinan, tetapi keadaan ini tidak berlangsung lama karena tidak adanya pelatihan kebidanan.

Pelayanan kesehatan termasuk pelayanan kebidanan hanya diperuntukkan bagi orang-orang Belanda yang berada di Indonesia. Kemudian pada tahun 1849 dibuka pendidikan Dokter Jawa di Batavia (Di Rumah Sakit Militer Belanda sekarang RSPAD Gatot Subroto). Seiring dengan dibukanya pendidikan dokter tersebut, pada tahun 1851, dibuka pendidikan bidan bagi wanita pribumi di Batavia oleh seorang dokter militer Belanda (Dr. W. Bosch) lulusan ini kemmudian bekerja di rumah sakit juga di masyarakat.

Pada tahun 1952 mulai diadakan pelatihan bidan secara formal agar dapat meningkatkan kualitas kualitas pertolongan persalinan. Kursus untuk dukun masih berlangsung sampai dengan sekarang yang memberikan kursus adalah bidan. Perubahan pengetahuan dan ketrampilan tenaga pelayanan kesehatan ibu dan anak secara menyelurh di masyarakat dilakukan melalui kursus tambahan yang dikenal dengan Kursus TamaAhan Bidan (KTB) pada tahun 1953 di Yogyakarta yang akhirnya dilakukan pula di kota-kota besar lainnya di nusantara ini. Seiring dengan pelatihan tersebut didirikanlah Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) dimana bidan sebagai penanggung jawab pelayanan kepada kepada masyarakat. Pelayanan yang diberikan mencakup pelayanan antenatal1, post natal2, dan pemeriksaan bayi dan anak termasuk imunisasi3 dan penyuluhan gizi. Sedangkan dluar BKIA bidan memberikan pertolongan persalinan di rumah keluarga dan pergi melakukan kunjungan rumah sebagai upaya tindak lanjut dari pasca persalinan.

Dari BKIA inilah yang akhirnya menjadi suatu pelayanan terintegrasi kepada masyarakat yang dinamakan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) pada tahun 1957. Puskesmas memberikan pelayanan di dalam gedung dan di luar gedung dan di dalam gedung dan berorientasi pada wilayah kerja. Bidan yang bertugas di Puskesmas berfungsi dalam memberikan pelayanan kesehatan ibu dan anak termasuk pelayanan keluarga berencana baik di luar gedung maupun di dalam gedung. Pelayanan kebidanan di luar gedung adalah pelayanan kesehatan keluarga dan pelayanan di pos pelayanan terpadu (Posyandu). Pelayanan di Posyandu mencakup empat kegiatan yaitu: pemeriksaan kehamilan, pelayanan keluarga berencana, imunisasi, gizi, dan kesehatan lingkungan.

Mulai tahun 1990 pelayanan kebidanan diberikan secara merata dan dekat dengan masyarakat, sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kebijakan ini melalui Instruksi Presiden secara lisan pada Sidang Kabinet Tahun 1992 tentang perlunya mendidik bidan untuk penempatan bidan di desa. Adapun tugas pokok bidan di desa adalah sebagai pelaksana kesehatan KIA, khususnya dalam pelayanan kesehatan ibu hamil, bersalin, dan nifas serta peleayanan kesehatan bayi baru lahir, termasuk pembinaan dukun bayi. Dalam kaitan tersebut, bidan di desa juga menjadi pelaksana pelayanan kesehatan bayi dan keluarga berencana yang pelaksanaannya sejalan dengan tugas utamanya dalam pelayanan kesehatan ibu. Dalam melaksanakan tugas pokoknya bidan di desa melaksanakan kunjungan rumah pada ibu dan anak yang membutuhkannya, mengadakan pembinaan pada Posyandu di wilayah kerjanya serta mengembangkan Pondok Bersalin sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.

Hal tersebut di atas adalah persyaratan yang diberikan oleh bidan di desa. Pelayanan yang diberikan berorientasi pada kesehatan masyarakat berbeda halnya dengan bidan yang bekerja di rumah sakit, dimana pelayanan yang diberikan berorientasi pada individu. Bidan dirumah sakit memberikan pelayanan poliklinik antenatal, gangguan kesehatan reproduksi di poliklinik keluarga berencana, senam hamil, pendidikan perinatal4, kamar bersalin, kamar operasi kebidanan, ruang nifas atau ruang perinatal.

 

2.3. Profesionalisme

         2.3.1 Arti Jabatan Profesional

Secara popular, seseorang yang bekerja dibidang apapun sering diberi predikat profesional. Seorang pekerja profesional menurut bahasa keseharian adalah seorang pekerja yang terampil dan cakap dalam kerjaannnya meskipun keterampilan atau kecakapan tersebut merupakan hasil minat dan belajar dari kebiasaan.

Pengertian jabatan profesional perlu dibedakan dengan predikat profesional yang diperoleh dari jenis pekerjaan hasil pembiasaan melakukan keterampilan tertentu (melalui magang/keterlibatan langsung dalam situasi kerja tertentu dan mendapatkan keterampilan kerja sebagai warisan dari orang tuanya atau pendahulunya).

Seorang pekerja profesional perlu dibedakan dari seorang teknisi. Baik pekerja profesional maupun teknisi dapat saja terampil dalam unjuk kerja (mis., menguasai teknik kerja yang sama, dapat memecahkan masalah teknis dalam bidang kerjanya). Akan tetapi, seorang pekerja profesional dituntut menguasai visi yang mendasari keterampilannya yang menyangkut wawasan filosofis, pertimbangan rasional, dan memiliki sikap yang positif dalam melaksanakan serta mengembangkan mutu karyanya.

C.V. Good menjelaskan bahwa jenis pekerjaan profesional memiliki ciri-ciri tertentu, yaitu: memerlukan persiapan atau pendidikan khusus bagi pelakunya (membutuhkan pendidikan prajabatan yang relevan), kecakapannya memenuhi persyaratan yang telah dibakukan oleh pihak yang berwenang (mis., organisasi profesional, konsorsium dan pemerintah), serta jabatan tersebut mendapat pengakuan dari masyarakat dan/atau negara.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa bidan adalah jabatan profesional karena memenuhi tiga persyaratan di atas.

 

         2.3.2 Ciri-Ciri Jabatan Profesional

Secara lebih rinci, ciri-ciri jabatan profesional adalah sebagai berikut:

  1. Pelakunya secara nyata (de facto) dituntut memiliki kecakapan kerja (keahlian) sesuai dengan tugas-tugas khusus serta tuntutan dari jenis jabatannya (spesialisasi).
  2. Kecakapan atau keahlian seorang pekerja profesional bukan sekedar hasil pembiasaan atau latihan rutin terkondisi, tetapi harus didasari oleh wawasan keilmuan yang mantap. Jabatan profesional juga menuntut pendidikan formal. Jabatan yang terpogram secara relevan dan berbobot akan terselenggara secara efektif, efesien, serta memiliki tolak ukur evaluasi yang terstandardisasi.
  3. Pekerja profesional dituntut berwawasan social yang luas sehingga pilihan jabatan serta kerjanya didasarkan pada kerangka nilai tertentu, bersikap positif terhadap jabatan dan perannya, serta memiliki motivasi dan upaya untuk berkarya sebaik-baiknya. Hal ini mendorong pekerja profesional yang bersangkutan untuk selalu meningkatkan (menyempurnakan) diri serta karyanya. Orang tersebut secara nyata mencintai profesinya dan meiliki etos kerja yang tinggi.
  4. Jabatan profesional perlu mendapat pengesahan dari masyarakat dan/ atau negara. Jabatan profesional memiliki syarat-syarat serta kode etik yang harus dipenuhi oleh pelakunya. Hal ini menjamin kepantasan bekarya dan merupakan tanggung jawab sosial profesional tersebut.

2.4. Bidan Sebagai Suatu JabatanProfesional

Sehubungan dengan profesionalisme jabatan bidan, perlu dibahas bahwa bidan tergolong jabatan profesional. Jabatan yang ditinjau dari dua aspek, yaitu jabatan struktural dan jabatan fungsional. Jabatan struktural adalah jabatan yang secara tegas ada dan diatur berjenjang dalam suatu organisasi, sedangkan jabatan fungsional adalah jabatan yang ditinjau serta dihargai dari aspek fungsinya yang vital dalam kehidupan masyarakat dan negara.

Selain fungsi dan perannya yang vital dalam kehidupan masyarakat, jabatan fungsional juga berorientasi kualitatif. Dalam konteks inilah. Jabatan bidan adalah jabatan fungsional profesional, dan wajarlah apabila bidan tersebut mendapat tunjangan fungsional.

Sesuai dengan uraian di atas, sudah jelas bahwa bidan adalah jabatan profesional. Persyaratan dari bidan sebagai jabatan profesional telah dimiliki oleh bidan tersebut. Persaratan tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Memberi pelayanan kepada masyarakat yang bersifat khusus atau spesialis.
  2. Melalui jenjang pendidikan yang menyiapkan bidan sebagai tenaga profesional.
  3. Keberadaannya diakui dan diperlukan oleh masyarakat
  4. Memiliki kewenangan yang disahkan atau diberikan oleh pemerintah.
  5. Memiliki peran dan fungsi yang jelas.
  6. Memiliki kopensi yang jelas dan terukur.
  7. Memilliki organisasi profesi sebagai wadah.
  8. Memiliki kode etik bidan.
  9. Memiliki etika kebidanan.
  10. Memiliki standar pelayanan.
  11. Memiliki standar praktik.
  12. Memiliki standar pendidikan yang mendasari dan mengembangkan profesi sesuai dengan kebutuhan pelayanan.
  13. Memiliki standar pendidikan berkelanjutan sebagai wahana pengembangan potensi.

2.5. Pola Pengembangan Pendidikan dan Karir Bidan

               Pola pengembangan pendidikan dan karir bidan adalah sebagai berikut:

2.5.1. Pola Pengambangan Pendidikan Bidan

               Dalam mengantisipasi tingkat kabutuhan masyarakat yang semakin butuh terhadap pelayanan kebidanan, perubahan-perubahan yang cepat dalam pemerintahan maupun dalam masyarakat dan perkembangan IPTEK serta persaingan yang ketat di era global ini diperlukan tenaga kesehatan khususnya tenaga bidan yang berkualitas baik tingkat pengetahuan, keterampilan, dan sikap profesionalime.

IBI sebagai satu-satu wadah bagi bidan telah mencoba berbuat untuk mempersiapkan perangkat lunak melalui kegiatan-kegiatan dalam lingkup profesi yang berkaitan dengan tugas bidan melayani masyarakat di berbagai tingkat kehidupan. Oleh karena IBI bertanggung jawab untuk mendorong tumbuhnya sikap profesionalisme bidan melalui kerjasama yang harmonis dengan berbagai pihak terutama dengan pemerintah. Karena keberadaan IBI ditengah-tengah anak bangsa merupakan pengabdia profesi dan juga kehidupan bidan itu sendiri. Oleh karena itu, IBI senantiasa turut berperan aktif dalam berbagai upaya yang diprogramkan pemerintah baik pada tingkat pusat maupun tingkat daerah sampai ke tingkat ranting. Namun, semua keterlibatan itu diupayakan untuk meningkatkan kualitas hidup anak bangsa dan sekaligus meningkatkan kualitas bidan sebagai pelayan masyarakat, khususnya pelayanan kesehatan ibu dan anak dalam siklus kehidupannya. Untuk itu, pendidikan bidan seyogyanya dirancang dengan memperhatikan faktor-faktor yang mendukung keberadaan bidan ditengah-tengah kehidupan masyarakat.

Pengembangan pendidikan kebidanan seyogyanya dirancang secara berkesinambungan, berjenjang, dan berlanjut sesuai dengan perinsip belajar seumur hudup bagi bidan yang mengabdi ditengah-tengah masyarakat. Pendidikan yang berkelanjutan ini bertujuan untuk mempertahankan profesionalisme bidan baik melalui pendidikan formal maupun pendidikan non formal. Namun IBI dan pemerintah menghadapi berbagai kendala untuk memulai penyelenggaraan program pendidikan tersebut.

Oleh karena itu, IBI senantiasa tetap berjalan bersama dan mendukung berbagai program pemerintah yang meningkatkan kealitas hidup anak bangsa melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia bidan disetiap tingkat pelayanan kesehatan terutama yang berfokus kepada pelayanan kesehatan reproduksi untuk meningkatkan harkat martabat kaum wanita agar mereka dapat hidup layak dan sejahtera.

Pendidikan formal yang telah dirancang dan diselenggaran oleh pemerintah dan swasta dengan dukungan IBI adalah Program D III dan D IV Kebidanan. Pemerintah telah berupaya untuk menyedikan dana bagi bidan di sector pemerintah melalui pengiriman tugas belajar ke luar negeri. Di samping itu IBI mengupayakan adanya badan-badan swasta dalam dan luar negeri untuk meningkatkan pendidikan melalui kerjasama dengan universitas di dalam negeri. Dewasa ini ada 40 orang yang sedang mengikuti pendidikan di salah satu universitas swasta di Jakarta (Universitas Muhammadiyah Jakarta) dengan program pilihan yang mendukung peningkatkan kualitas dan wawasan.

Sedang pendidikan non formal telah dilaksanakan melalui program pelatihan, magang, seminar/lokakarya. Dengan bekerjasama antara IBI dengan lembaga internasional telah pula dilaksanakan berbagai program non formal beberapa provinsi. Semua upaya tersebut bertujuan meningkatkan kinerja bidan dalam memberikan pelayanan kebidanan yang berkualitas. IBI juga telah mengembangkan suatu program mentorship dimana bidang senior membimbing bidan junior dalam konteks profesionalisme kebidanan.

Dengan mempertimbangkan jumlah anggota IBI yang cukup besar dan dibandingkan dengan kemampuan pengadaan program pendidikan formal dengan sistem klasikal, maka diasumsikan bahwa kurang lebih 32 tahun baru seluruh anggota IBI dapat mengikuti pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Disamping itu telah pula disepakati antara IBI dengan pemerintah bahwa masa transisi dalam upaya peningkatan kualitas bidan melalui jalur pendidikan formal akan berlangsung sepuluh tahun (2010), oleh karena itu IBI bersama pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan, dan Kesejahteraan Sosial, dan Departeman pendidikan mencoba untuk mencari jalan keluar melalui suatu system pendidikan yang mengakui berbagai pengalaman bidan dalam melayani masyarakat. Pengakuan/penghargaan terhadap pengalaman bidan (recognition of prior learning) ini diharapkan akan dapat lebih mempercepat upaya peningkatan kualitas bidan melalui pendidikan formal tanpa mengabaikan apa yang telah dimiliki oleh para bidan. Pola pendidikan ini masih dalam tahap penjajakan dan perencanaan. Diharapkan dalam waktu yang tidak terlalu lama pelaksanaan system pendidikan ini terlah selesai dan dapat diterapkan di Indonesia.

 

Skema

 

Pola pengembangan pendidikan berkelanjutan telah dikembangkan/dirumuskan sesuai dengan kebutuhan. Pengembangan pendidikan berkelanjutan bidan mengacu pada peningkatan kualitas bidan sesuai dengan kebutuhan pelayanan. Materi pendidikan berkelanjutan meliputi aspek klinik dan non klinik.

 

2.5.2. Pola Pengembangan Karir Bidan

               Pengembangan karir bidan meliputi karir fungsional dan karir struktural. Pada saat ini pengembangan karir bidan secara fungsional telah disiapkan dengan jabatan fungsianl bagi bidan, serta melalui pendidikan berkelanjutan baik secara formal maupun non formal yang hasil akhirnya akan meningkatkan kemampuan profesional bidan dalam melaksanakan bidan dalam melaksanakan fungsiny. Fungsi bidan nantinya dapat sebagai pelaksana, pengelola, pendidik, peneliti, bidan koordinator dan bidan penyedia.

Sedangkan karir bidan dalam jabatan struktural tergantung dimana ia bertugas, apakah dirumah sakit, di Puskesmas, bidan di desa atau bidan diinstitusi swasta. Karir tersebut dapat dicapai oleh bidan di tiap tatanan pelayanan kebidanan/kesehatan sesuai dengan tingkat kemampuan, kebijakan, dan kesempatan yang ada.

Dalam hal penataan/perencanaan tenaga bidan, IBI bersama Departemen Kesehatan telah merencanakan kebutuhan tenaga bidan untuk tiap tatanan pelayanan dan organisasi lain yang memungkinkan, diperlukannya, keberadaan bidan, dalam system pelayanan kebidanan khususnya dan system pelayanan kesehatan umumnya.

 

Adapun perencanaan kebutuhan tenaga bidan untuk mewujudkan Indonesia Sehat 2010 adalah sebagai berikut :

 

 

BAB IV

KESIMPULAN

               Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut :

  1. Profesi bidan bukanlah profesi yang ringan dan tidak semua orang dapat menjadi bidan profesional karena profesi seorang bidan mengemban tanggungjawab yang besar. Profesionalisme, kerja keras, dan kesungguhan hati serta niat yang baik akan memberikan kekuatan dan modal utama bagi pengabdian profesi bidan.
  2. Pemahaman yang utuh menganai konsep kebidanan sangat penting dimiliki oleh para bidan maupun calon bidan karena tuntutan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan saat ini semakin meningkatkan, khususnya kualitas pelayanan kebidanan. Hal ini merupakan tantangan bagi bidan untuk meningkatkan kemampuannya, baik pengetahuan, keterampilan, maupun sikap dan perilaku yang profesional.
  3. Pekerja profesional adalah pekerja yang terampil dan cakap dalam kerjaannnya meskipun keterampilan atau kecakapan tersebut merupakan hasil minat dan belajar dari kebiasaan.
  4. Suatu profesi dikatakan profesional apabila memiliki pengetahuan dan kemampuan yang dihasilkan pendidikan yang cukup untuk memenuhi kompetensi profesionalnya.
  5. Pendidikan bidan secara formal agar dapat meningkatkan kualitas kualitas pertolongan persalinan.
  6. Pengakuan/penghargaan terhadap pengalaman bidan (recognition of prior learning) ini di harapkan akan dapat lebih mempercepat upaya peningkatan kualitas bidan melalui pendidikan formal tanpa mengabaikan apa yang telah dimiliki oleh para bidan.

 

BAB V

SARAN

 

               Pengembangan pendidikan kebidanan seyogyanya dirancang secara berkesinambungan, berjenjang, dan berlanjut sesuai dengan perinsip belajar seumur hudup bagi bidan yang mengabdi ditengah-tengah masyarakat. Pendidikan yang berkelanjutan ini bertujuan untuk mempertahankan profesionalisme bidan baik melalui pendidikan formal maupun pendidikan non formal.

Pengembangan karir bidan meliputi karir fungsional dan karir struktural. Pada saat ini pengembangan karir bidan secara fungsional telah disiapkan dengan jabatan fungsianl bagi bidan, serta melalui pendidikan berkelanjutan baik secara formal maupun non formal yang hasil akhirnya akan meningkatkan kemampuan profesional bidan dalam melaksanakan bidan dalam melaksanakan fungsiny. Fungsi bidan nantinya dapat sebagai pelaksana, pengelola, pendidik, peneliti, bidan koordinator dan bidan penyedia.

Sedangkan karir bidan dalam jabatan struktural tergantung dimana ia bertugas, apakah dirumah sakit, di Puskesmas, bidan di desa atau bidan diinstitusi swasta. Karir tersebut dapat dicapai oleh bidan di tiap tatanan pelayanan kebidanan/kesehatan sesuai dengan tingkat kemampuan, kebijakan, dan kesempatan yang ada.

 

LAMPIRAN

Catatan Klinik

 

1 Pelayanan antenatal, adalah perawatan yang diberikan oleh bidan dan dokter kebidanan selama kehamilan untuk memastikan agar kesehatan ibu dan janinnya berada dalam kadaan yang memuaskan. Penyimpangan dari keadaan normal dapat dideteksi dan ditangani secara dini. Dalam perawatan antenatal, ibu hamil dapat dipersiapkan untuk menghadapi proses persalinannya serta proses menjadi orang tua dan penyuluh kesehatan dapat diberikan. Riwayat medis yang rinci dan hasil-hasil pengamatan serta pemeriksaan yang menjadi baseline dapat diperoleh pada kunjungan antenal yang pertama. Kunjungan selanjutnya meliputi pemantauan perjalanan kehamilan dan kesehatan ibu serta janinnya.

 

2  Post natal, adalah perawatan pasca melahirkan.

 

3 Imunisasi, adalah tindakan pengimunan; pengebalan (terhadap pnyakit).

 

4 Perinatal, disekitar saat kelahiran.P.period periode perinatal. Minggu pertama sejak kelahiran seorang bayi (bayi dalam usia satu minggu pertama). P.mortality rate angka mortalitas perinatal. Jumlah lahir mati plus kematian bayi di bawah usia 1 minggu per 1000 total kelahiran dalam 1 tahun.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Ikatan Bidan Indonsia. (2008). 50 tahun IBI Bidan Menyongsong Masa Depan. Jakarta : PP IBI

Soepardan, Suryani.(2007). Konsep Kebidanan. Jakaarta : EGC

Andini, Aditya.(2003). Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya : Prima Media

Tiran, Denise. (2005) Kamus Saku Bidan. Ed.10. Jakarta :EGC

 

 

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.