Pengaruh Proses Pengetahuan Dalam Bentuk Sikap/Perilaku

Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan umumnya datang dari pengalaman, juga dapat diperoleh dari informasi yang disampaikan orang lain, didapat dari buku, atau media massa dan elektronik.

Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yaitu indera penglihatan, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Ever Behavior). Pada dasarnya pengetahuan terdiri dari sejumlah fakta dan teori yang memungkinkan seseorang dapat memahami sesuatu gejala dan memecahkan masalah yang dihadapi.

Pengetahuan dapat diperoleh dari pengalaman langsung ataupun melalui pengalaman orang lain. Pengetahaun dapat ditingkatkan melalui penyuluhan, baik secara individu maupun kelompok, untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan yang bertujuan untuk tercapainya perubahan perilaku individu, keluarga dan masyarakat dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan optimal.

Pengetahuan dalam bentuk sikap/perilaku

Pengetahuan yang di peroleh baik secara langsung maupun dari pengalaman orang lain selalu memiliki tingkatan-tingkatan seiring dengan bertambaha dan berkembangnya pengetahuan itu.

Pada saat memperoleh pengetahuan seseorang akan memulai pengetahuannya dalam proses sekedar tahu, yang kemudian meningkat menjadi pemahaman setelah memperoleh informasi yang cukup untuk mengembangkan pengetahuan itu. Dan seiring dengan proses interaksi yang berlangsung dinamis dan terus-menerus menjadikan pengetahuan yang didapat menjadi sesuatu yang akhirnya menyatu dengan individu tersebut dan sedikit banyak akan mempengaruhi pola perilakunya.

Contoh 1 : Seorang ibu yang tahu bahwa anak usia dini memerlukan lebih banyak asupan nutrisi untuk menunjang tumbuh kembangnya, akan memberikan gizi yang cukup untuk anaknya. Baik dengan memberikan menu-menu yang memenuhi standar gizi nasional (4sehat 5 sempurna), maupun dengan menjaga pola makan anak yang sering kali anak usia dini gemar sekali membeli jajanan di pinggir jalan yang amat jauh dari kata higenis.

Contoh 2 : Berbeda dengan ibu yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang gizi anaknya. Pengetahuannya hanya berbatas pada pengalaman nenek moyang ataupun mitos-mitos yang menyebar di masyarakat. Umumnya para ibu ini mengurangi asupan daging, telur, ikan (protein) dengan alasan takut anaknya akan menjadi cacingan ataupun menjadi gatal-gatal karena terlalu banyak mengkonsumsi lauk hewani.

Dalam dua kasus di atas sangat jelas perbedaan perilaku pada individu yang kurang mendapat pengetahuan yang cukup. Sehingga pola periku dan sikapnya pun masih kolot dan cenderung menuruti mitos-mitos yang ada sebagai daasar pengetahuannya.

Perilaku seseorang sangat ditentukan oleh pengetahuannya akan proses pengembangan pengetahuan yang dimilikinya untuk memperbaiki perilaku.

Memahami Konsep Pendidikan

Proses pendidikan dapat terjadi secara sengaja ataupun tidak sengaja. Proses pendidikan yang berlangsung secara sengaja tentunya emerlukan dasar pemikiran yang benar dan kuat guna tercapainya proses pendidikan yang baik dan tearah dengan benar.

Sebagai contoh :

Seorang anak memperkaya jiwanya dengan bermain, dan mainan memperkaya pengetahuannya dengan mendengar, melihat dan menanyakan, belajar bicara dan menulis. Pertumbuhan akan memuaskan dengan hubungan baik antara ibu dengan anak-anaknya.

Mendidik anak berarti memberikan pegertian tentang kebiasaan yang baik sehingga menjadikan anak penuh kasih saying. Hal-hal demikian dapat dicapai dengan contoh-contoh yang baik dan berwibawa, seorang anak mempunyai penglihatan yang tajam sekali, akan tetapi belum mempunyai pengertian, pendapat atau kritik. Ia belum dapat membedakan antara yang baik dan yang  jelek. Contoh-contoh orangtua mempunyai arti yang sangat penting baginya.

Dalam keluarga yang tentram, bahagia dan sejahtera, pendidikan tidak akan mengalami kesukaran. Perhatikan juga bahwa kewibawaan yang berlebihan akan menyebabkan anak menjadi penakut dan merasa kurang dari taraanak-anak yang lain, sedangkan kewibawaan yang kurang dapat menyebabkan anak tidak taat dan anti sosial.

 

Dasar-dasar Pendidikan untuk Anak ialah

Membiasakan diri untuk melakukan sesuatu pada waktu-waktu tertentu dan teratur. Misalnya, bangun, makan, tidur siang, tidur malam. Kebisaan demikian berarti menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Menurut contoh di atas dapat diartikan bahwa pendidikan yang dimulai sejak dini bersumber dari bimbingan perilaku dan kebiasan. Dimana tiap individu memiliki kecenderungan untuk meniruru. Sedangkan pendidikan yang dimulai dari kebiasaan cepat atau pun lambat akan berubah menjadi pola perilaku dan pembawaan diri.

Dan Nampak jelas hubungan antara proses pendidikan dan pola seseorang dalam berperilaku. Dan akan terus berkembang seiring dengan frekuensi pergaulan dan interaksinya dengan lingkungan dan orang-orang disekitarnya

(di sunting dari buku Ilmu Kesehatan Masyarakat “Kegiatan KIA di Puskesmas dan Permasalahannya” Dr.Dainur MPH)

 

Penyimpangan

 

Namun tidak selamanya pengetahuan dapat mempengaruhi sikap/ perilaku. Contoh singkat, apa bila seorang yang mengetahui bahwa dia sedang dalam kondisi sakit dan kadar garam dalam tubuhnya banyak, harus mengurangi konsumsi garam. Namun pada akhirnya ia pun tidak mengindahkannya dan tetap saja memberi asupan makanan yang menggunakan garam dengan alasan kurang sedap suatu bahan makan apabila tidak di beri cukup garam yang sesuai dengan selera lidahnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: